MODAL SAHAM
Modal saham adalah Surat bukti kepemilikan Perusahaan.Untuk mendapatkan modal,PT menerima setoran dari Pemilik.Sebagai bukti setoran dikeluarkan tanda bukti pemilikan yang berbentuk saham yang diserahkan kepada pihak-pihak yang menyetor modal.pemilik PT merupakan kumpulan pihak-pihak yangmempunyai saham sehingga disebut pemegang saham.Saham yang dikeluarkan oleh PT dapat dicantumkan nama pemilikan nya,disebut Saham atas nama ,dapat juga tidak dicantumkan nama pemilik nya.
Saham yang merupakan bukti pemilikan PT mempunyai beberapa hak sebagai berikut:
1. Hak untuk berpartisipasi dalam menentukan arah dan tujuan perusahaan, yaitu melalui hak suara dalam rapat pemegang saham.
2. Hak untuk memeperoleh laba dari perusahaan dalam bentuk dividen yang di bagi oleh prusahaan.
3. Hak untuk membeli saham baru yang dikeluarkan perusahaan aga proporsi pemilikan saham masing-masing pemegang saham dapat tidak berubah.
4. Hak untuk menerima pembagian aktiva perusahaan dalam hal perusahaan dilikuidasi.
Apabila perusahaan itu mengeluarkan satu jenis saham maka seluruh pemegang saham mempunyai hak yang sama, tetapi bila saham yang dikeluarkan itu lebih dari satu jenis maka yang diberikan kepada masing-masing yang berbeda, tergantung pada kontrak pengeluaran saham yang disetujui.
Dalam akta pendirian perusahaan disebutkan jumlah lembar saham yang akan dikeluarkan, jumlah yang sudah disetor dan nilai nominalnya. Nilai nominal saham adalah nilai yang tercantum dalam tiap-tiap lembar saham,yaitu nilai yang ditentukan untuk masing-masing lembar.
JENIS – JENIS SAHAM
Apabila perusahaan mengeluarkan satu macam saham maka saham itu disebut saham biasa (common Stock). Apabila saham yang dikeluarkan dua macam, yang satu adalah saham biasa dan saham prioritas (preferen stock).
Saham Biasa (Common Stock)
Saham biasa adalah saham yang pelunasannya dilakukan dalam urutan yang paling akhir dalam hal perusahaan dilikuidasi, sehingga resikonya adalah yang paling besar. Karena resikonya besar, biasanya jika usaha perusahaan berjalan dengan baik maka dividen saham biasa akan lebih besar daripada saham prioritas.
Sertifikat Saham
Sertifikat saham dikeluarkan oleh PT Danareksa, yaitu suatu PT yang didirikan oleh pemerintah Republik Indonesia untuk membeli saham perusahaan-perusahaan yang “go public” melalui pasar modal dan menjualnya kembali kepada masyarakat umum dalam bentuk sertifikat saham.
Saham Prioritas
Saham prioritas merupakan saham yang mempunyai beberapa kelebihan,biasanya kelebihan ini dihubungkan dengan pembangian dividen atau pembagian aktiva pada saat likuidasi. Kelebihan dalam hal pembagian dividen adalah bahwa dividen yang dibagi pertama kali harus dibagikan untuk saham prioritas, kalau ada kelebihan, baru dibagikan kepada pemegang saham biasa. Dividen saham prioritas tidak terutang atas dasar waktu, tetapi baru terutang jika sudah di umumkan oleh perusahaan. Biasanya saham prioritas mempunyai nilai nominal dan dividennya dinyatakan dalam persentase dari nilai nominal. Apabila saham prioritas itu tidak mempunyai nilai nominal maka dividennya dinyatakan dalam bentuk rupiah dan bukan dalam bentuk persentase.
Ada beberapa kelebihan yang dimiliki saham prioritas yaitu:
1. Saham Prioritas Kumulatif dan Tidak Kumulatif
Saham Prioritas Kumulatif adalah saham prioritas yang dividennya setiap tahun harus dibayarkan kepada pemegang saham.Apabila dalam suatu tahun dividen tidak dapat dibayarkan, maka pada tahun berikutnya dividen yang belim dibayar tadi harus dilunasi dulu sehingga dapat mengadakan pembagian dividen untuk saham biasa. Jika saham prioritas itu tidak kumulatif,dividen tahun-tahun sebelumnya yang belum dibayar tidak perlu dilunasi pada tahun-tahun berikutnya. Jadi jika akan membagi dividen untuk saham biasa, kewajiban yang ada hanyalah membanyar dividen saham prioritas untuk tahun tsb.
2. Saham Prioritas Partisipasi dan Tidak Berpartisipasi
Saham prioritas mungkin berpartisipasi penuh atau sebagian. Yang dimaksud dengan partisipasi penuh adalah jika saham prioritas berhak atas dividen dengan jumlah yang sama besar dengan saham biasa sesudah saham biasa mendapat dividen sebesar persentase dividen saham prioritas.
Contoh : PT Risa Fadila mempunyai saham yang beredar sbg brkt:
Saham prioritas, nominal Rp.1.000.000,100% berpatisipasi penuh, saham biasa, nominal Rp 2.000.000.Pada akhir tahun 2005, dibagi deviden sebesar Rp 540.000.000.Deviden ini9 dibagikan kepada saham prioritas dan biasa dgn prioritas sbb:
Prioritas Biasa
10%x Rp 1.000.000 =Rp 100.000
Untuk saham biasa =
10%x Rp 2.000.000 Rp 200.000
Untuk saham prioritas dan biasa=
Rp 240.000 = 8% = 80.000 160.000
Rp 3.000.000 Rp 180.000 Rp 360.000
======= =========
Dengan cara perhitungan di atas, masing masing saham memperoleh deviden dengan tarif yang sama besar (18%) yaitu:
Saham prioritas = Rp 180.000 x 100% = 18%
Rp 1.000.000
Saham biasa = Rp 360.000 x 100% = 18%
Rp 1.000.000
Perhitungan di atas dapat juga dilakukan sekaligus, yaitu sbb:
Persentase dividen untuk kedua jenis saham = Rp 540.000 x 100% = 18%
Rp 1.000.000
Pembagian dividen untuk:
Saham prioritas = 18% x Rp 1.000.000 = Rp 180.000
Saham biasa = 18% x Rp 2.000.000 = Rp 360.000
Apabila saham prioritas tidak berpartisipasi penuh, tetapi hanyan sampai 15%, maka perhitungannya sbb:
Untuk saham prioritas=
10%x Rp 1.000.000 = Rp 100.000
Untuk biasa=
10%x Rp 2.000.000 Rp 200.000
Untuk prioritas=
5% x Rp 1.000.000 = Rp 50.000
Rp 150.000 Rp 390.000
Persentase penerimaan dividen sbb:
Saham prioritas = Rp 150.000 x 100% = 15%
Rp 1.000.000
Saham biasa = Rp 390.000 x 100% = 19,5%
Rp 2.000.000
Apabila saham prioritas itu tidak berpartisipasi maka dividen yang diterima setiap tahunnya terbatas sebesar tariff dividennya. Dalam contoh diatas dividen saham prioritas setiap tahunnya sebesar 10%.
3. Saham prioritas atas aktiva dan dividen pada saat likuidasi
Saham dengan preferensi seperti ini pada saat likuidasi akan tetap menerima dividen yang belum dibayar, walaupun saldo laba tidak dibagi tidak mencukupi. Sesudah pelunasan dividennya, saham prioritas ini dilunasi. Jika saldo laba tidak dibagi tidak mencukupi maka pelunasan dividend dan nominal saham prioritas dilakukan dari modal yang disetor dari saham biasa.
Saham biasa yang pelunasannya jatuh pada urutan terakhir akan menerima jumlah pengembalian sebesar sisa modal disetor yang masih ada. Dapat terjadi sisanya nol sehingga tidak memperoleh pengembalian.
4. Saham prioritas yang dapat ditukar dengan saham biasa
Kadang-kadang saham prioritas mempunyai preferensi dapat ditukar dengan saham biasa.pemegang saham jenis ini akan menukarkan saham nya dengan saham biasa dalam keadaan dividen yang dibagi untuk saham biasa tiap tahunnya lebih besar daripada dividen untuk saham prioritas.
PENCATATAN MODAL SAHAM
Untuk dapat melakukan pencatatan modal saham dengan baik,perlu diketahui istilah-istilah berikut ini:
1. Modal saham statuler atau modal saham yang diotorisasi,yaitu jumlah saham yang dapat dikeluarkan sesuai dengan akta pendirian perusahaan.
2. Modal saham beredar ,yaitu jumlah saham yang sudah dijual(beredar).
3. Modal saham belum beredar ,yaitu jumlah saham yang sudah diotorisi tetapi belum dijual.
4. Treasure stock,yaitu modal saham yang sudah dijual dan sekarang dibeli kembali oleh perusahaan.
5. Modal saham dipesan ,yaitu jumlah saham yang disisihkan karena sudah dipesanuntuk dibeli.Modal saham yang dipesan ini baru dikeluarkan bila harga jualnya sudah dilunasi.
PSAK No.21 paragraf 15 menyatakn modal saham yang dijual dicatat dalam rekening modal saham sebesar nilai nominalnya yaitu nilai yang tercantum dalam lembaran saham. Jika harga jualnya tidak sama dengan nilai nminal, selisinya dicatat dalam rekening agio saham atau disagio saham. Rekening agio saham menunjukan selisi diatas nilai nominal dan rekening disagio saham menunjukan selisih dibawah nilai nominal.
Penjualan secara tunai
saham yang dijual secara tunai akan dicatat dengan mendebit akun (rekening) kas dan menkredit rekening (akun) modal saham.
Jurnal pada saat mencatat penjualan saham perdana:
Kas Rp xxx
Disagio saham xxx
Modal saham Rp xxx
Atau
Kas Rpxxx
Modal saham Rpxxx
Agio saham xxx
Penjualan Melalui Pesanan
Apabila harga jual saham tidak sama dgn nomilnalnya,selisihnya dicatat dalam rekening agio saham atau disagio saham pada waktu pesanan itu diterima .untuk pemesanan yang sudah melunasi harga saham maka sahamnya dikeluarkan. pengeluaran saham ini dicatat dgn mendebit rekening modal saham dipesan dan mengkredit modal saham.
Misalnya PT.Risa Fadila mempunyai modal statuter sebanyak 1000 lmbr nominal @Rp 1000,- dan akan dijual semuanya (ditempatkan).
Transaksi | jurnal |
Penjualan saham 400 lembar.tunai Rp100.000,00 dan msein seharga Rp300.000,00 | Kas Rp100.000 Mesin Rp300.000 Modal saham Rp400.000 |
Diterima pesanan 500 lmbr saham dengan kurs 11, dibayar tunai 70% sisanya 30 hari | Piutang pesanan saham Rp550.000 Modal saham dipesan Rp500.000 Agio saham 50.000 Kas Rp385.000 Piutang pesanan saham Rp385.000 |
Diterima pelunasan sisa pesanan untuk 300 lmbr saham Saham 300 lmbr diserakan | Kas Rp99.000 Piutang pesanan saham Rp99.000 Modal saham dipesan Rp300.000 Modal saham Rp300.000 |
PEMBATALAN PESANAN SAHAM
Saham yang sudah dipesan,jumlah lembarnya disisihkan tersendiri dan akan diserahkan kepada pemesan bila harga jual saham sudah dilunasi.apabila terjadi pemesan tidak dapat melunasi kekurangan pembayarnya maka perusahaan dapat mengambil salah satu jalan sbb:
1. Uang yang sudah diterima dikembalikan pada pemesan
2. Uang yang sudah diterima dikembalikan kepada pemesan sesudah dikurangi biaya atau kerugian penjualan kembali saham-saham tersebut
3. Uang yang sudah diterima dianggap hilang (tidak dikembalikan)
4. Mengeluarkan saham yang nilainya sama dengan jumlah uang yang sudah diterima
Pencatatang yang dilakukan jika terjadi adanya pemesanan yang tidak dapat dilunasi kekurangannya dari tindakan yang diambil perusahaan.
Contoh pencatatan pembatalan pesanan saham diambilkan dari contoh dimuka yaitu pesanan sebanyak 500 lembar dengan kurs 110 dan sudah dibayar sebanyak 70%.dari pesanan tersebut seorang pemesan yang memesan saham sebanyak 100 lembar tidak dapat melunasi kekurangannya.modal saham dipesan yang dibatalkan oleh perusahaan dapat dijual kembali dengan kurs 105.
Jurnal yang dibuat oleh PT Risa Fadila adalah:
a) Uang yang sudah diterima dikembalikan kepada pemesan.
Modal saham dipesan Rp 100.000
Agio saham 10.000
Piutang pesanan saham Rp 33.000
Kas 77.000
Kas Rp 105.000
Modal saham Rp 100.000
Agio saham 5.000
b) Uang yang sudah diterima dikembalikan pada pemesan sesudah dikurangi biaya atau kerugian penjualan kembali saham-saham tersebut.
Modal saham dipesan Rp 100.000
Agio saham 10.000
Piutang pesanan saham Rp 33.000
Utang pada pemesan 77.000
Kas Rp 105.000
Utang pada pemesan 5.000
Modal saham Rp 100.000
Agio saham 10.000
Utang pada pemesan Rp 72.000
Kas Rp 72.000
c) Uang yang sudah diterima dianggap hilang (tidak dikembalikan)
Modal saham dipesan Rp 100.000
Agio saham 10.000
Piutang pesanan saham Rp 33.000
Modal dari pembatalan pesanan saham 77.000
Kas Rp 105.000
Modal saham Rp 100.000
Agio saham 5.000
d) Mengeluarkan saham yang nilainya sama dengan jumlah uang yang sudah diterima.
Modal saham dipesan Rp 100.000
Agio saham 3.000
Modal saham Rp 70.000
Piutang pesanan saham 33.000
Kas Rp 31.500
Modal saham Rp 30.000
Piutang pesanan saham 1.500
PENJUALAN SAHAM SECARA LUMPSUM
Penjualan saham bisa dilakukan dengan cara penjualan pe runit saham.metode yang dapat digunakan adalah:
1. metode inkremental,dan
2. metode proporsinal
Bila harga pasar ke-2 jenis saham diketahui maka perhitungannya menggunakan metode proporsional. Namun apabila hanya harga salah satu jenis sham yang diketahui maka metode yang digunakan metode inkremental
Mis:1 unit saham terdr dr: 1 lembar saham prioritas nominal Rp10.000,00
1 lembar saham biasa nominal Rp 1.000,00
Harga jual per unit Rp10.500,00. Pada penjualan diketahui harga pasar saham biasa=Rp1.250,00. Karena hanya harga pasar saham biasa yang diketahui, maka harga setiap saham dihitung dengan menggunakan metode inkremental sbb:
Harga 1 unit saham Rp 10.500,00
Harga pasar saham biasa 1.250,00
Diketahui bahwa dari penjualan diatas, saham biasa mendapat agio sebsar Rp250,00 dan saham prioritas mendapat disagio Rp750,00. penjualan 1 unit saham dengan harga sperti diatas dicatat dengan jurnal sbb:
Kas Rp10.500,00
Disagio saham prioritas 750,00
Modal sahan prioritas Rp10.000,00
Modal saham biasa 1.000,00
Agio saham biasa 250,00
Dari contoh diatas bila diketahui harga pasar sahm prioritas sebesar Rp9.500,00 maka perhitungan harga pasar setiap saham dilakukan dengan menggunakan metode proporsional sbb:
Harga pasar saham biasa Rp1.250,00
Harga pasar saham priorias 9.500,00
Harga pasar keseluruhan saham Rp10.750,00
Dengan demikian maka harga saham biasa adalah sbb:
Rp 1.250 X Rp 10.500 = Rp 1.220
Rp 10.750
Harga saham prioritas adalah:
Rp 9.500 X Rp 10.500 = 9.280
Rp 10.750
Dari perhitungan diatas diketahui bahwa disagio saham biasa sebesar Rp 30 dan disagio saham prioritas sebesar Rp 500.jurnal untuk mencatat transaksi penjualan satu unit saham sbb:
Kas Rp 10.500
Disagio saham biasa 30
Disagio saham prioritas 720
Modal saham biasa Rp 1.250
Modal saham prioritas 10.000
PERTUKARAN SAHAM DENGAN AKTIVA SELAIN KAS
Kadang modal saham dikeluarkan dengan menerima aktiva (selain dari kas ).dalam keadaan seperti ini besarnya jumlah yang akan dicatat dalam rekening modal dan rekening aktiva didasarkan pada yang lebih mudah ditentukan dari:
a. Harga pasar saham yang dikeluarkan,atau
b. Nilai wajar aktiva yang diterima
PSAK No.21 paragraf 13 (f) menyatakan bahwa saham dicatat berdasarkan nilai wajar aktiva bukan kas yang diterima (butir b).Apabila kedua dasar penilaian diatas tidak dapat ditentukan ,biasanya dilakukan penilaian terhadap aktiva yang diterima.Kecenderungan yang sering terjadi jika penilaian yang dilakukan oleh pimpinan perusahaan adalah menghindari adanya disagio saham,sehingga aktiva dan modal saham akan dicatat terlalu besar.apabila modal saham dan aktiva akan dicatat terlalu besar.apabila modal saham atau aktiva yang diterima terlalu besar maka modal saham itu disebut “watered”.Tetapi jika dicatat terlalu kecil maka neraca yang akan disusun mengandung cadangan rahasia.
Contoh :
PT Risa Fadila menerbitkan 10.000 lembar saham nominal Rp 1.000 per lembar dan ditukar dengan sebuah gedung.
1. Apabila harga pasar saham tidak diketahui, tetapi harga pasar gedung diketahui sebesar Rp 15.000.000 maka jurnal yang dibuat adalah:
Gedung Rp 15.000.000
Modal saham Rp 10.000.000
Agio saham 5.000.000
2. apabila harga pasar gedung tidak diketahui tetapi harga pasar saham diketahui sebesar Rp 14.000.000 maka jurnalnya adalah:
Gedung Rp 14.000.000
Modal saham Rp 10.000.000
Agio saham Rp 4.000.000
3. apabila harga pasar saham dan bangunan keduanya tidak diketahui dan pimpinan perusahaan menetapkan harga perolehan bangunan sebesar Rp 12.500.000, maka jurnal yang dibuat adalah:
Gedung Rp 12.500.000
Modal saham Rp 10.000.000
Agio saham Rp 2.500.000
BONUS YANG BERUPA SAHAM
Agar penjualan obligasi atau saham prioritas bias menarik pribadi kadang kadang diberikan saham biasa sebagai bonus. Misalnya dalam penjualan 10 lembar saham prioritas nominal @ Rp 1.000 diberi bonus 1 lembar saham biasa, nominal Rp 1.000. Harga pasar saham prioritas tanpa bonus = Rp 950 per lembar. Jurnal untuk mencatat transaksi diatas sebagai berikut:
Kas Rp 10.000
Disagio saham prioritas 500
Disagio saham biasa 500
Modal saham prioritas Rp 10.000
Modal sahm biasa 1.000
Disagio saham prioritas dan saham biasa dihitung sebagai berikut:
Nilai nominal saham prioritas (10 lembar ) Rp 10.000
Harga pasar saham prioritas (10 lembar) (Rp 9.500)
Disagio saham prioritas Rp 500
Harga jual saham prioritas plus bonus Rp 10.000
Harga pasar saham prioritas tanpa bonus (Rp 9.500)
Nilai saham biasa Rp 500
Nilai nominal saham biasa (Rp 1.000)
Disagio saham biasa Rp 500
PERLAKUAN TERHADAP AGIO ATAU DISAGIO SAHAM YANG DIJUAL
Dalam hal penjualan saham dengan harga diatas atau di bawah nilai nominal, maka selisih itu akan dicatat didalam rekening agio atau disagio saham. Rekening (akun) agio saham dipakai untuk mencatat kelebihan harga di atas nilai nominalnya sedang rekening disagio saham dipakai untuk mencatat kekurangan harga dari nilai nominal saham. Rekening-rekening agio atau disagio saham adalah rekening yang menunjukkan modal yang disetor dari pemegang saham, oleh karena itu selama saham saham tersebut masih beredar maka rekening itu juga akan nampak dalam neraca. Di dalam neraca rekening agio saham merupakan tambahan rekening modal saham, dan rekening disagio saham merupakan pengurangan terhadap rekening modal saham. Apabila saham yang beredar ditarik, maka rekening agio dan disagio saham yang berhubungan dengan saham tersebut dibatalkan.
PUNGUTAN TAMBAHAN ATAS SAHAM (ASSESSMENTS)
Dalam suatu keadaan tertentu perusahaan bias mengadakan pungutan tambahan kepada para pemegang saham. Pencatatan terhadap pungutan tambahan ini tergantung pada harga jual saham-saham tersebut. Apabila saham-saham itu dulu dijual dibawah nominal (dengan disagio) maka pungutan tambahan yang dikenakan kepada para pemegang saham dicatat sebagai berikut:
Kas Rp xxx
Disagio saham Rp xxx
Rekening disagio saham akan dikredit maksimum sebesar diagio yang timbul dari penjualan saham. Jika pungutan lebih besar dari disagio maka selisihnya akan dikreditkan ke rekening modal pungutan tambahan. Tetapi apabila penjualan saham dulunya tidak dibawah nominal maka pungutan tadi semuanya akan dikreditkan kerekening modal pungutan tambahan.
PENGELUARAN SAHAM UNTUK MEMBELI (AKUISISI) PERUSAHAAN.
Sebuah PT bias membeli (akuisisi) perusahaan lain dan digabungkan (merger) menjadi satu. Pembelian ini dapat dibayar dengan saham dari PT tersebut. Jumlah ssaham yang akan dipakai untuk pembayaran tergantung pada harga pasar saham tersebut dan juga harga pasar dari aktiva perusahaan yang dibeli.
Kadang-kadang perusahaan yang diakuisisi dinilai lebih tinggi daripada harga pasar aktivanya. Hal ini bias disebabkan oleh beberapa hal, antara lain kemampuan perusahaan itu dalam memperoleh laba. Selisih harga pasar aktiva yang diakuisisi dengan jumlah harga pembelian yang disetujui dicatat sebagai Goodwill.
Kadang-kadang perusahaan-perusahaan perseorangan bergabung untuk membentuk suatu PT. masing-masing perusahaan akan menerima saham dari PT tersebut sebagai ganti aktiva yang diserahkan kepada PT baru. Bisa juga sebuah perusahaan perseorangan berganti bentuk menjadi PT. Apabila perusahaan yang lama itu berbentuk firma maka para anggota firma tersebut akan menerima saham dari PT yang baru sebanding dengan modal masing-masing anggota. Dalam keadaan ini ada 2 cara pencatatat yang dapat dilakukan:
1. Buku-buku perusahaan lama dilanjutkan sebagai buku perusahaan baru.
2. Buku-buku perusahaan lama ditutup dan dibuat buku baru untuk perusahaan baru.
Dalam perubahan untuk perusahaan ini, oleh PT. Risa Fadila diadakan beberapa penyesuaian terhadap catatan Firma A & Z sebagai berikut:
a. Cadangan kerugian piutang dinaikan menjadi Rp 20.000
b. Barang dagangan dinilai sebesar Rp 255.000 (berdasarkan harga beli pada tanggal 5 Oktober 2005).
c. Aktiva tetap dinilai kembali menjadi Rp 1.500.000 dan akumulasi depresiasi sebesar Rp 400.000.
Saham yang diterima oleh Firma A & Z dibagikan untuk A sebanyak 500 lembar dan untuk Z 1.000 lembar. Sisa uang dari Firma dibagi kepada A & Z sesuai dengan sisa modal masing-masing.
1) Jika buku perusahaan lama dilanjutkan sebagai buku perusahaan baru
Perubahan terhadap nilai aktiva dicatat langsung ke rekening modal anggota, kemudian rekening modal anggota ditutup dan rekening modal saham dikredit. Sesudah itu transaksi-transaksi yang berhubungan dengan PT.Risa Fadila akan dicatat dalam buku-buku tersebut. Jurnal-jurnal yang dibuat adalah sebagai berikut:
Transaksi | Jurnal | ||||||||||||
Mencatat perubahan-perubahan terhadap aktiva.selisihnya sebesar Rp 55.000 dikreditkan ke rekening modal A & Z dengan perbandingan 2:3 | Perusahaan barang Rp 55.000 Aktiva tetap 700.000 Cadangan kerugian piutang Rp 5.000 Akumulasi depresiasi 200.000 Modal A 220.000 Modal Z 330.000 | ||||||||||||
Mencatat goodwill yang dihitung sbb: Harga pasar saham yang diterima firma A & Z = 1500 x Rp 1.000= 1.500.000 Nilai aktiva yang ditransfer ke PT Aktiva : Piutang Rp 160.000 Persediaan barang 255.000 Rp 1.515.000 Utang 150.000 goodwill Rp 135.000 | Goodwill Rp 135.000 Modal A Rp 54.000 Modal Z 81.000 | ||||||||||||
Mencatat pembagian saham A: 500 x Rp 1.000 = Rp 500.000 Mencatat pembagian uang kas kepada anggaran firma: A Modal Rp 310.000 Penyesuaian: Penilaian aktiva Rp 220.000 Goodwill 54.000 Rp 584.000 Z Modal Rp 600.000 Penyesuaian: Penilaian aktiva Rp 330.000 411.000 Saham yang diterima 1.000.00 Mencatat penjualan saham 1500 lembar @ Rp 1.000 | Modal A Rp 500.000 Modal Z 1.000.000 Modal saham biasa Rp 1.500.000 Modal A Rp 84.000 Modal Z 11.000 Kas Rp 95.000 Kas Rp 1.500.000 Modal saham Rp 1.500.000 | ||||||||||||
sesudah jurnal diatas di posting ,dapat disusun neraca untuk PT Risa Fadila per 5 oktober 2005 sbb:
PT.Risa Fadila
Neraca
Per 5 Oktober 2005
Kas Rp 1.500.000 Piutang Rp 180.000 Cadangan kerugian piutang 20.000 Persediaan barang 255.000 Aktiva tetap Rp 1.500.000 Ak.depresiasi 400.000 goodwill 135.000 | Utang Rp 150.000 Modal saham 3.000.000 Rp 3.150.000 |
2. jika buku-buku perusahaan lama ditutup dan dibuat buku baru untuk perusahaan baru
Jika dibuat buku-buku baru untuk PT,maka semua rekening dalam buku firma ditutup dan aktiva serta utang firma dicatat dalam buku PT.pada waktu mengadakan penutupan buku-buku firma dibuat jurnal untuk mencatat perpindahan aktiva dan utang-utang firma ke PT,penerimaan saham dan pembagian saham serta uang kepada anggota firma.jurnal untuk menutup buku-buku firma sbb:
Transaksi | Jurnal |
Perpindahan aktiva ke PT Selisih antara tagihan kepada pembeli (1.500 lembar @ Rp.1.000)dengan nilai buku aktiva yang dipindahkan (Rp 815.000),merupakan laba penjualan perusahaan dan dibagi untuk A dan Z.berbanding 2:3 sbb: A: 2 x Rp 685.000 = Rp 274.000 5 Z:3 x Rp 685.000 = Rp 411.000 5 | Piutang PT Risa Fadila Rp 1.500.000 Utang lancar 150.000 Cadangan kerugian piutang 15.000 Ak.depresiasi 200.000 Piutang Rp 180.000 Persediaan barang 200.000 Aktiva tetap 800.000 Modal A 274.000 Modal Z 411.000 |
Mencatat penerimaan saham dari PT Risa Fadila | Saham PT Risa Fadila Rp 1.500.000 Piutang PT Risa Fadila Rp 150.000 |
Mencatat pembagian saham untuk A & Z | Modal A Rp 500.000 Modal Z 1.500.000 Saham PT Risa Fadila Rp 1.500.000 |
Mencatat pembagiaan kas untuk A & Z | Modal A Rp 84.000 Modal Z 11.000 Kas Rp 95.000 |
Dalam jurnal diatas,penilaian kembali aktiva dan pengakuan goodwill tidak dicatat dalam buku firma,tetapi jika diinginkan maka penilaian kembali dan goodwill dapat dicatat dalam buku-buku firma,kemudian baru dipindahkan ke PT.
Ada cara lain yang dapat digunakan dalam menutup buku-buku firma,yaitu dengan menutup langsung semua rekening-rekening aktiva,utang dan Modal. Dalam cara ini laba penjualan perusahaan dan pembagian saham serta kas,untuk anggota firma tidak dicatat dalam pembukuan.Jurnal untuk menutup langsung rekening-rekening aktiva,utang dan Modal firma A dan Z sbb:
Utang lancar Rp 150.000
Cadangan kerugian piutang 15.000
Akumulasi depresiasi 200.000
Modal A 310.000
Modal Z 600.000
Kas Rp 95.000
Piutang 180.000
Persediaan barang 200.000
Aktiva tetap 800.000
Sedangkan jurnal yang dibuat oleh PT Risa Fadila Sbb:
Transaksi | Jurnal |
Mencatat aktiva dan utang yang diterima dari Firma A & Z | Piutang Rp 180.000 Persediaan barang 255.000 Aktiva tetap 1.500.000 Goodwill 135.000 Cadangan kerugian piutang Rp 20.000 Ak.depresiasi 400.000 Utang lancar 150.000 Utang A & Z 1.500.000 |
Mencatat pengeluaran saham 1.500 lembar untuk firma A & Z | Utang A & Z Rp 1.500.000 Modal saham Rp 1.500.00 |
Mencatat penjualan saham 1.500 lembar @Rp 1.000 | Kas Rp 1.500.000 Modal saham Rp 1.500.000 |
Dalam jurnal diatas aktiva yang diterima oleh PT Risa Fadila dicatat dengan jumlah penilaian kembali dan cadangan kerugian piutang serta akumulasi depresiasi di kredit.Alternatif lain yang dapat dilakukan ialah,aktiva dicatat dengan jumlah nilai sehat sesudah penilaian kembali.Sehingga dengan cara ini tidak ada pencatatan untuk cadangan kerugian piutang dan akumulasi deperisiasi.